Minggu, 30 November 2014
CLOUD COMPUTING (KOMPUTASI AWAN)
A. Definisi
Cloud computing (komputasi awan) merupakan gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dalam suatu jaringan dengan pengembangan berbasis internet (awan). "Cloud" merujuk kepada simbol awan yang digunakan TI yang menggambarkan jaringan internet. Cloud computing merupakan suatu paradigma dimana informasi secara permanen tersimpan di server internet.
B. Manfaat
1. Semua data tersimpan di server secara terpusat sehingga pengguna tidak perlu repot menyediakan data center ataupun media penyimpanan lainnya.
2. Keamanan data pengguna dapat disimpan dengan aman lewat server yang disediakan oleh penyedia layanan cloud computing, platform teknologi, jaminan ISO, data pribadi, dll.
3. Teknologi cloud menawarkan fleksibilitas dengan kemudahan dalam mengakses data kapanpun dan dimanapun kita berada asal terhubung dengan internet.
4. Pengguna dapat menambah atau mengurangi kapasitas penyimpanan.
5. Penghematan biaya pembelian media penyimpanan seperti hardisk, flashdisk, dll. Bekurangnya pula biaya royalti atas lisensi software karena telah dijalankan lewatkomputasi berbasis internet.
C. Keterbatasan Cloud Computing
1. Untuk menggunakan cloud computing kita harus terhubung ke internet. Tidak semua tempat terdapat koneksi internet. Walaupun ada, koneksinya ada yang stabil ada juga yang tidak.
2. Kerahasiaan dan keamanan diragukan karena jika ada kehilangan atau kerusakan data, kita tidak bisa minta pertanggungjawaban.
3. Kita harus mempertimbangkan kualitas server komputasi awan (cloud computing). Bisa saja kita dirugikan ketika server dimana mita menyimpan data berperforma buruk.
D. Perusahaan yang sudah Menggunakan Cloud Computing
1. Google lewat aplikasi Google Drive.
2. IBM lewat Blue Cord Initiative.
3. Microsoft melalui sistem aplikasinya yang berasis cloud computing.
4. Deal Pos.
5. Telkom dengan Telkom Cloud dengan program Telkom VPS dan Telkom Collaboration.
E. Cara Kerja Sistem Cloud Computing
Sistem Cloud bekerja menggunakan internet sebagai server dalam mengolah data. Sistem ini memungkinkan pengguna untuk login ke internet yang tersambung ke program untuk menjalankan aplikasi yang dibutuhkan tanpa melakukan instalasi. Infrastruktur seperti media penyimpanan data dan juga instruksi/perintah dari pengguna disimpan secara virtual melalui jaringan internet kemudian perintah – perintah tersebut dilanjutkan ke server aplikasi. Setelah perintah diterima di server aplikasi kemudian data diproses dan pada proses final pengguna akan disajikan dengan halaman yang telah diperbaharui sesuai dengan instruksi yang diterima sebelumnya sehingga konsumen dapat merasakan manfaatnya.
Minggu, 09 November 2014
COSO (The Commitee of Sponsoring Organization of The Treadway Commission)
Tentang COSO
Konsep Pengendalian Internal Menurut COSO
Pada tahun 1992, COSO menerbitkan laporan yang berjudul "Internal Control-Integrated Framework". Laporan COSO tersebut memberikan suatu pandangan baru tentang konsep internal control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi. Konsep ini mendapat akseptasi yang luas dari berbagai pihak.
Definisi pengendalian internal menurut COSO adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh aktivitasa dewan komisaris, manajemen dan pegawai, yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang wajar atas :
a) efektifitas dan efisiensi operasi
b) keandalan laporan keuangan
c) ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Terdapat lima komponen pengendalian internal menurut COSO
2. Risk Assessment (Penaksiran Resiko)
3. Control Activities (Aktivitas Pengendalian)
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur membantu meyakinkan manajemen bahwa arahannya telah dijalankan. Aktivitas pengendalian membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah diambil dalam mengahadapi resiko sehingga tujuan entitas dapat tercapai. Aktivitas pengendalian terjadi pada seluruh organisasi, pada seluruh level, dan seluruh fungsi.
4. Information and Communication (Informasi dan Komunikasi)
Informasi yang bersangkutan harus diidentifikasi, tergambar dan terkomunikasi dalam sebuah form dan timeframe yang memungkinkan orang-orang menjalankan tanggung jawabnya. Sistem informasi menghasilkan laporan, yang berisi informasi operasional, finansial, dan terpenuhinya keperluan sistem, yang membuatnya mungkin untuk menjalankan dan mengendalikan bisnis. Informasi dan komunikasi tidak hanya menghadapi data-data yang dihasilkan internal, tetapi juga kejadian eksternal, kegiatan dan kondisi yang diperlukan untuk memberikan informasi dalam rangka pembuatan keputusan bisnis dan laporan eksternal.
5. Monitoring (Pemantauan)
Sistem pengendalian internal perlu diawasi, sebuah proses untuk menentukan kualitas performa sistem dari waktu ke waktu. Proses ini terselesaikan melalui kegiatan pengawasan yang berkesinambungan, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya. Luas dan frekuensi evaluasi terpisah, akan tergantung pada terutama penaksiran resiko dan efektifnya prosedur monitoring yang sedang berlangsung. Ketergantungan sistem pengendalian harus dilaporkan kepada atasan, dengan masalah yang serius juga dilaporkan kepada manajemen teratas dan dewan direksi.
Committe of Sponsoring Organization of the Treadway Commission, atau disingkat COSO, adalah suatu inisiatif dari sektor swasta yang dibentuk pada tahun 1985. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan penggelapan laporan keuangan dan membuat rekomendasi untuk mengurangi kejadian tersebut. COSO telah menyusun suatu definisi umum untuk pengendalian, standar, dan kriteria internal yang dapat digunakan perusahaan untuk menilai sistem pengendalian mereka.
COSO disponsori dan didanai oleh 5 asosiasi dan lembaga akuntansi profesional, yaitu American Institute of Certified Public Accountans (AICPA), American Accounting Association (AAA), Financial Executives Institute (FEI),The Institute of Internal Auditors (IIA), dan The Institute of Management Accountants (IMA)
Konsep Pengendalian Internal Menurut COSO
Pada tahun 1992, COSO menerbitkan laporan yang berjudul "Internal Control-Integrated Framework". Laporan COSO tersebut memberikan suatu pandangan baru tentang konsep internal control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi. Konsep ini mendapat akseptasi yang luas dari berbagai pihak.
Definisi pengendalian internal menurut COSO adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh aktivitasa dewan komisaris, manajemen dan pegawai, yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang wajar atas :
a) efektifitas dan efisiensi operasi
b) keandalan laporan keuangan
c) ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Terdapat lima komponen pengendalian internal menurut COSO
1. Control Environment (Lingkungan Pengendalian)
Lingkungan pengendalian merupakan dasar bagi komponen pengendalian internal lainnya, memberikan disiplin dan struktur. Faktor lingkungan pengendalian termasuk :
a) Integritas dan nilai etik, merupakan etika entitas yang dimiliki dan standar perilaku yang berlaku serta bagaimana mereka mengkomunikasikan dan mengaplikasikan dalam praktik.
b) Komitmen terhadap kompetensi, kompetensi merupakan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
c) Dewan direksi dan komite audit, jajaran direktur yang efektif adalah yang independen terhadap manajemen. Komite audit bertanggung jawab sebagai komunikator, baik bagi auditor internal maupun auditor eksternal.
d) Gaya manajemen dan gaya operasi, pemahaman dan aspek-aspek tentang filosofi manajemen dan gaya operasi memberi auditor suatu pemahaman mengenai sikap manaejmen terhadap pengendalian intern.
e) Struktur organisasi, pemahaman struktur organisasi memberi gambaran bagi auditor mengenai manajemen dan elemen-elemen fungsional dari bisnis dan bagaimana pengendalian diimplementasikan.
f) Pemberian wewenang dan tanggung jawab, memberi pemahaman mengenai pengendalian dan cara-cara yang digunakan untuk pengendalian, perencanaan formal organisasi dan operasi, penugasan karyawan dan kebijakan yang dimiliki entitas.
g) Praktik dan kebijakan sumber daya manusia, sumber daya manusia merupakan aspek penting dalam pengendalian intern. Pengendalian intern yang dikembangkan entitas berusaha untuk mengatur, menjaga tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia.
Penaksiran resiko adalah proses mengidentifikasi dan menganalisis resiko-resiko yang relevan dalam pencapaian tujuan, membentuk sebuah basis untuk menentukan bagaimana resiko dapat diatur. Risiko dapat timbul atau berubah karena beberapa keadaan yaitu perubahan dalam lingkungan operasi, personel baru, sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki, teknologi baru, lini produk, atau aktivitas baru, restrukturisasi korporasi, operasi luar negeri, dan standar akuntansi baru.
3. Control Activities (Aktivitas Pengendalian)
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur membantu meyakinkan manajemen bahwa arahannya telah dijalankan. Aktivitas pengendalian membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah diambil dalam mengahadapi resiko sehingga tujuan entitas dapat tercapai. Aktivitas pengendalian terjadi pada seluruh organisasi, pada seluruh level, dan seluruh fungsi.
4. Information and Communication (Informasi dan Komunikasi)
Informasi yang bersangkutan harus diidentifikasi, tergambar dan terkomunikasi dalam sebuah form dan timeframe yang memungkinkan orang-orang menjalankan tanggung jawabnya. Sistem informasi menghasilkan laporan, yang berisi informasi operasional, finansial, dan terpenuhinya keperluan sistem, yang membuatnya mungkin untuk menjalankan dan mengendalikan bisnis. Informasi dan komunikasi tidak hanya menghadapi data-data yang dihasilkan internal, tetapi juga kejadian eksternal, kegiatan dan kondisi yang diperlukan untuk memberikan informasi dalam rangka pembuatan keputusan bisnis dan laporan eksternal.
5. Monitoring (Pemantauan)
Sistem pengendalian internal perlu diawasi, sebuah proses untuk menentukan kualitas performa sistem dari waktu ke waktu. Proses ini terselesaikan melalui kegiatan pengawasan yang berkesinambungan, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya. Luas dan frekuensi evaluasi terpisah, akan tergantung pada terutama penaksiran resiko dan efektifnya prosedur monitoring yang sedang berlangsung. Ketergantungan sistem pengendalian harus dilaporkan kepada atasan, dengan masalah yang serius juga dilaporkan kepada manajemen teratas dan dewan direksi.
Langganan:
Komentar (Atom)